Kamis, 12 April 2012

Bagaimanakah Membuat Proposal PTK?


PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) merupakan penelitian yang dilakukan di dalam kelas guna memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas  dilakukan PTK, hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses belajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau yang lainnya. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu :
  1. PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apabila dalam kelas tersebut terdapat masalah
  2. PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
  3. PTK memang harus diadakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran di kelas apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.
Identifikasi masalah merupakan langkah awal dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal ini karena PTK bertolak dari adanya permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Tanpa adanya permasalahan, langkah-langkah berikutrnya tidak akan bisa direncanakan dan PTK tidak dapat dilakukan. Setelah menyadari adanya masalah, guru memikirkan cara untuk memecahkannya dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran yang dikelolanya.Berdasarkan hal tersebut ,tahapan ini sangat penting dilakukan sebagai modal dasar untuk perbaikan kinerja guru dalam pembelajaran.
Ketrampilan mengidentifikasi masalah merupakan langkah pertama PTK yang akan dilakukan. Hal ini dapat dilakukan pada saat merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam refleksi diingat kembali kejadian atau hal-hal yang membuat guru tidak puas. Masalah yang merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dan kenyataan, jadi dapat berupa situasi yang tidak memuaskan.
Contoh daftar masalah dalam pembelajaran
  1. Masalah Praktik Pembelajaran
  2. Kesulitan guru dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan KD yang akan dipelajari
  3. Kesulitan guru dalam mengoptimalkan kerja kelompok siswa.
  4. Kesulitan siswa dalam membangun atau menemukan konsep sendiri
  5. Kesulitan guru dalam mengembangkan LKS untuk mengembangkan ketrampilan berpikir siswa.
  6. Kesulitan guru dalam mengembangkan materi menjadi bahan ajar.
  7.  Kesulitan guru dalam memilih metode yang sesuai dengan KD
  8.  Guru kurang memberdayakan media pembelajaran yang ada .
  9.  Siswa kurang berani mengungkapkan pendapat
  10.  Siswa tidak mau tampil di depan kelas.
  11. Motivasi siswa untuk belajar IPA rendah
  12. Siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
  13. Siswa tidak memperhatikan penjelasan guru.

Banyak sekali masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran di sekolah. Tentu para guru diminta untuk mencari solusi dari masalah-masalah itu. Untuk mencari solusi dari masalah itu diperlukan sebuah penelitian. Dari sinilah dimulai sebuah penelitian yang dimulai dari melihat, membaca, menulis, meneliti dan melaporkannya dalam bentuk laporan PTK. Karena itu guru dituntut untuk mampu membuat proposal PTK-nya sendiri guna memecahkan masalah yang ada dalam proses pembelajarannya. Dalam membuat proposal PTK biasanya para guru mengacu kepada format PTK dari Depdiknas yang terdiri dari :

 A. JUDUL PENELITIAN
Setelah kita membahas bagaimana cara menemukan masalah, langkah selanjutnya adalah membuat Judul Penelitian. Dalam membuat judul penelitian, beberapa hal yang harus diketahui adalah judul itu harus:
  1. Komunikatif, mudah dipahami maksudnya oleh pembaca
  2. Memuat variabel penelitian
  3. Menjawab apa yang ingin ditingkatkan
  4. Cara/upaya apa untuk meningkatkannya.
  5. Sasaran dan Lokasi tercermin dalam judul
  6. Banyak kata sekitar 15-20 kata
Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi. Alasan pemilihan judul juga harus:
  • Menarik minat
  • Layak diteliti
  • Bermanfaat bagi masyarakat, dll.
Contoh judul penelitian Tindakan kelas antara lain :
  1. Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS) Pokok Bahasan Kimia Lingkungan Melalui Pembuatan Film tentang Pencemaran Lingkungan Sekitar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak 1 SMK Negeri 8 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (Oleh : Ardan Sirodjuddin, S.Pd.)
  2. Pembelajaran Berbasis Project Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari Tahun Pelajaran 2007/2008 (Oleh : Dra. Sri Wahyuni Dwiyanti M.Pd).
  3. Penggunaan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas III IPS SMA Negeri 1 Randublatung Pada Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. (Oleh : Juremi)
  4. Penggunaan “Dakon Elektron” Dalam meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA Kelas I Kecantikan Kulit Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2004/2005 SMK Negeri 1 Tegal (Oleh : Ibnu Hajar Dewantoro).

B. PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan harus dikemukakan:
1. Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:
  • Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester, mata pelajaran yang ditunjang dan mata pelajaran penunjang);
  • Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan);
  • Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.
2. Masalah yang dihadapi guru ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran.
Kriteria masalah yang dapat dibuat PTK adalah :
  • Masalah di sekolah/di kelas
  • Layak diteliti dan terjangkau PTK
  • Perlu ada: identifikasi masalah; analisis masalah.
  • Rumusan masalah: singkat; jelas; operasional.
  • Bukan permasalahan individual siswa, tetapi masalah kelas;

C. PERUMUSAN MASALAH
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.
Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah tersebut.
Pada perumusan masalah perlu diperhatikan :
·         Substansi:
Perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipilih untuk meningkatkan dan/atau memperbaiki pembelajaran
·         Orisinalitas (tindakan):
Perlu mempertimbangkan belum pernah tidaknya tindakan dilakukan guru sebelumnya
Formulasi: dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya, dan tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut
·         Teknis:
Mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian, seperti kemampuan metodologi penelitian, penguasan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran, kemampuan menyediakan fasilitas (dana, waktu, dan tenaga).
Contoh perumusan masalah :
1.    Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan prestasi belajar geografi khusus kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan pada siswa kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
2.    Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
3. Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kualitas proses belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
4.      Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
 
D. TUJUAN PENELITIAN
Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.

E.  KONTRIBUSI/MANFAAT PENELITIAN
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.

F. KAJIAN/TINJAUAN PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.
Tata cara perujukan pustaka/artikel dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun diantara tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir kedua penulis tersebut. Jika penulisnya lebih dari dua orang, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari penulis tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan atau nama koran.
Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123)
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘…..’).
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).

G.   PROSEDUR PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.

H.  JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Contohnya, jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan.
I. PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan. Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti dan kajian masalah yang diteliti. Bidang penelitian yang diteliti sebaiknya relevan dengan disiplin ilmu guru, misalnya guru matematika tidak membahas pembelajaran yang ada di pelajaran Biologi. Begitupun sebaliknya. Terkecuali penelitian yang ditekuninya masih ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Contohnya pembuatan media pembelajaran.

J. DAFTAR PUSTAKA (SEMENTARA)
  • a)      Rujukan Dari Buku
Tahun penerbitan ditulis setelah nama penulis, diakhiri dengan titik. Judul buku ditulis dengan huruf miring, dengan huruf besar pada awal setiap kata, kecuali kata hubungan. Tempat penerbitan dan nama penerbit dipisahkan dengan titik dua (:)
Contoh:
Strunk, W. Jr. & White, E.B. 1979. The Element of Style (3rd ed.). New York: Macmillan.
  • b)     Rujukan dari buku yang berisi kumpulan artikel (ada editornya)
Contoh:
Amunuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.
  • c)      Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbitkan oleh Suatu Penerbit Tanpa Penulis dan Tanpa Lembaga.
Judul atau nama dokumen ditulis di bagian awal dengan cetak miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota penerbit dan nama penerbit.
Contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl, 1990. Jakarta: PT. Armas Duta Jaya.
  • d)     Rujukan Dari Internet Berupa Karya Individual
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (on line), dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, diantara tanda kurung.
                Contoh:
                Hitchcoeck, S., Carr, L. & Hall, W. 1996. A Survey of STM Online Journals, 1990-95: The Calm Before the Storm, (Online), (http://journal.ecs.saton.ac.uk/survey/ Survey.html, diakses 12 Juni 1996).


Ditulis oleh : Esti W Mulyanto




Rabu, 22 Februari 2012

TEORI BELAJAR


Live Long Education, merupakan pepatah barat yang kira-kira dapat diartikan bahwa belajar adalah pekerjaan sepajang hayat. Untuk seseorang dalam hal ini pebelajar (orang yang sedang belajar/siswa) mampu melakukannya maka diperlukan penciptaan lingkungan yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab pebelajar untuk melakukannya sepanjang hayat. Dalam tulisan Lazanov (1978) yang dikutip oleh DePorter, B.,( 2002: 3) dalam bukunya Quantum Learning, mengatakan bahwa sampai sejauh mana seorang guru mampu mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajarannya, maka sejauh itu pula proses belajar mengajar itu berlangsung Ini berarti. Sehingga dalam pembelajaran diharapkan dapat mengarahkan perhatian siswa ke dalam nuansa proses belajar seumur hidup dan tak terlupakan.
Menurut Gagne (1977), belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap pribadi (hasil) yang merupakan hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal dilingkungan pribadi yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan peristiwa pembelajaran berupa metode pembelajaran ( Miarso, 2004). Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar. Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks, dimana melibatkan setiap kata, pikiran, tindakan, dan juga asosiasi. Menurut Sadia (2006) terdapat empat pilar pendidikan seumur hidup yang ditetapkan oleh UNESCO, yaitu 1) to learn to know (belajar untuk berpengetahuan), 2) to learn to do (belajar untuk berbuat), 3) to learn to live together (belajar untuk dapat hidup bersama), dan 4) to learn to be (belajar untuk jati diri).
Banyak studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang, dan ramah. Untuk itu diperlukan membangun ikatan emosianal dengan siswa, yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar, menjalin hubungan, dan menyingkirkan ancaman. Hal ini merupakan faktor yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Dengan kondisi seperti itu, siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang berhubungan dengan bahan pelajaran (Walberg, 1997 dalam DePorter, B., 2002: 23). Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena belajar dan pembelajaran yang terdapat dalam Teori Belajar.
Ada beberapa pendapat yang rancu mengenai Teori Belajar dan Teori Pembelajaran. Menurut Bruner dalam Degeng, (1989), Teori belajar adalah deskriptif, karena tujuan utamanya memeriksa proses belajar. Sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif, karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal (Budiningsih, 2005: 11). Teori belajar lebih fokus kepada bagaimana peserta didik belajar, sehingga berhubungan dengan variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Dalam teori belajar, kondisi dan metode pembelajaran merupakan variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung. Dengan demikian, dalam pengembangan teori belajar, variabel yang diamati adalah hasil belajar sebagai efek dari interaksi antara metode dan kondisi. Hasil yang diamati adalah hasil pembelajaran nyata (actual outcomes) dalam pengertian probabilistik, yaitu hasil pembelajaran yang mungkin muncul, dan bisa jadi bukan merupakan hasil pembelajaran yang dinginkan. Oleh karena teori belajar adalah deskriptif.
Teori Belajar sebenarnya sudah ada sebelum abad ke-20, yang termasuk didalamnya adalah disiplin mental, teori pengembangan alamiah, dan teori apersepsi. Teori belajar sebelum abad ke-20 dikembangkan berdasarkan pemikiran filosofis atau spekulatif, tanpa dilandasi eksperimen. Setelah abad ke-20 mulailah para ahli merumuskan Teori Belajar yang diperoleh dari berbagai eksperimen yang kemudian dibagi dalam dua kategori yaitu : teori belajar perilaku (behavioristik) dan teori belajar Gestalt-field. Teori belajar perilaku (behavioristik), berlandaskan kepada stimulus-respons sedangkan teori belajar Gestalt-field, berlandaskan kepada segi kognitif (Ali, 2000: 20). Sehingga dapat dikatakan bahwa aliran behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang nampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif lebih menekankan pada pembentukan perilaku internal yang sangat mempengaruhi perilaku yang nampak tersebut.
Teori Belajar Behavioristik
Beberapa teori belajar perilaku (behavioristik), diantaranya Teori Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov dan didukung oleh John B Watson, Teori Law Of Effect oleh Edward Lee Thorndike dengan pendukungnya Clark Hull, serta Teori Operant Conditioning oleh Skiner (Dahar, 1989: 39). Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gagne, Berliner, 1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus (apa yang diberikan guru) dan output yang berupa respon (reaksi/ tanggapan siswa terhadap stimulus), sedangkan proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila stimulus dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin lemah atau bahkan hilang.
 Teori Belajar Kognitif / Kostuktivisme
Sedangkan teori belajar kognitif, meliputi teori belajar bermakna oleh Ausubel, teori belajar pemahaman konsep oleh Jerome Bruner, teori Webteaching oleh Norman, teori Hirarki belajar oleh Gagne, teori belajar Gestalt-field, dan teori perkembangan oleh Piaget.  Teori Piaget biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif.  Teori belajar Piaget berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa (ada 4 tahapan).  Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan teori Piaget sangat berkaitan dengan teori belajar konstruktivistik (Ruseffendi, 1988 dalam Hamzah, 2001). Pernyataan ini didukung oleh Sadia (2006), yang mengemukakan bahwa pandangan konstruktivisme berakar pada teori struktur genetik Piaget. Berdasarkan teori perkembangan kognitif yang dikembangkannya, Piaget juga dikenal sebagai konstruktivis pertama.
Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, keaktifan siswa menjadi unsur yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. 
PERBEDAAN ANTARA KE DUA TEORI
NO
TEORI BEHAVIORISME
TEORI KONSTRUKTIVISME
1
Memiliki paradigma keteraturan
Memiliki paradigma kesemrawutan/ tidak teratur
2
Pengetahuan adalah objektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.

Pengetahuan adalah non-objective, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu.
3
Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindah-kan pengetahuan ke orang yang belajar.
Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa Termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.
4
Mementingkan hasil belajar
Menitikberatkan pada proses perolehan pengetahuan
5
Siswa diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh guru itulah yang harus dipahami oleh siswa.
Siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

6
Fungsi pikiran adalah men-jiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan

Fungsi pikiran sebagai alat untuk menginterpretasi peris-tiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistik


Ditulis oleh : Esti W Mulyanto

Referensi :
Dahar, R.W. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: P2LPTK
DePorter, B. 2002. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang Ruang Kelas. Penerjemah, Ary Nilandari. Edisi 1. Cetakan ke-10. Bandung: Kaifa
Sadia, I W. 2006. Model Pembelajaran Konstruktivistik (Suatu Model Pembelajaran Berdasarkan Paradigma Konstruktivisme). Materi Perkuliahan Landasan Pembelajaran. PPS Undiksha Singaraja




Minggu, 19 Februari 2012

PUASA DAN KESEHATAN MANUSIA


     Puasa atau bahasa Inggrisnya : Fasting bagi umat muslim bukan hal yang baru, salah satu rukun Islam adalah puasa pada bulan ramadhan.  Suatu hal yang menjadi wajib tentunya memiliki  alasan yang sangat mendasar kenapa Allah SWT menetapkan demikian.  Sebagai salah satu kewajiban dalam agama banyak orang yang melaksanakan puasa hanya sebagai kewajiban, tanpa menyadari  batapa banyak keuntungan yang akan kita peroleh ketika melaksanakan kewajiban tersebut dari segi kesehatan.  

     Berikut ini beberapa penelitian menunjukkan fakta bahwa banyak organ dalam tubuh kita yang menjadi lebih sehat setelah kita menjalankan puasa (fasting). Organ-organ tersebut antara lain : Hati, Ginjal, Kulit, Mata, Lambung, Telinga, Paru-paru.

     Sebuah penelitian di Osaka Jepang, tahun 1930, menemukan fakta bahwa puasa mampu menaikkan kadar Leukosit darah yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa pada hari 1 sampai kari ke 6 berpuasa tidak terdapat pembentukan sel darah putih yang signifikan, setelah hari ke 7 sampai 10 penambahan jumlah sel darah putih meningkat pesat.

     Penelitian terbaru pada tahun 1997 yang berjudul  Alteration in Lymphocyte Subsets and Pituitary-Adrenal Gland-Related Hormones During Fasting memperkuat penelitian sebelumnya dengan penelitian pada pasien ganggan psikosomatik menyebutkan bahwa puasa 7-10 hari dapat meningkatkan aktivitas NK cell (Natural Killer/ sel pembunuh kuman ) secara signifikan.


     Dalam artikelnya situs AntiAging-Europe.com juga menyebutkan bahwa puasa dapat mencegah dan menyembuhkan infeksi, meningkatkan kandungan Immunoglobulin dalam tubuh juga monocytes dan lympocyte.


     Dr Otto Buchinger, seorang dokter dari Jerman melakukan penelitian mengenai puasa.  Dalam resepnya dia menyarankan pasiennya menjalankan puasa. Dalam beberapa hari berpuasa, telah terjadi peruntuhan zat-zat yang mengganggu atau zat yang menjadikan tubuh sakit misalnya zat-zat asing, nanah, getah penyakit dsb. Dengan berpuasa bahan-bahan tersebut akan kekurangan makanan sehingga meluruh dan diambil oleh darah untuk dikeluarkan. Dalam penelitian ini Dr Buchinger juga menemukan bahwa puasa dapat mempercepat penyembuhan penyakit radang selaput paru, telinga dan bisul. Selain itu puasa  juga menurunkan suhu tubuh sampai 0,5-1 derajat, banyaknya urine berkurang sehingga lebih banyak mengandung darah (darah kotor yang memang harus keluar). Puasa juga mempengaruhi  hati (lever), dimana dengan berpuasa maka kebuthan energi diambilkan dari glikogen, yang apabila sudah habis akan diambilkan dari lemak. Hal ini menyebabkan aktivitas empedu meningkat tapi  lama-lama akan berkurang. Kandungan empedu cenderung untuk mengempis dengan cepat sehingga kersik, lendir dan batu-batu akan keluar bersama dengan kotoran.

     Puasa bagi terapi penderita Diabetes sudah bukan menjadi hal baru, dalam bukunya Dr Bahar Azwar mengemukakan hubungan puasa dengan kerja kelenjar pankreas. Dimana pada orang yang berpuasa, pada saat kekurangan energi, otak akan memaksa kelenjar pankreas untuk mengeluarkan hormon insulin yang dapat mengurai glikogen yang tersimpan. Bila energi  yang didapat dari penguraian glikogen maka lemak yang menumpuk diberbagai tempat (pembuluh darah  koroner, bawah kulit, dll) akibatnya kerja jantung, hati usus dan ginjal akan lebih ringan karena lancarnya suplay oksigen.

     Hal menarik juga pernah dikemukakan Dr Tilden bahwa puasa dalam jangka waktu yang cukup dapat mencegah timbulnya hampir semua penyakit akut. Hal tersebut karena dengan berpuasa akan menurunkan akumulasi toksin dibawah batas toleransi. Puasa mampu membentuk satu kekebalan yang dapat bertahan dari segala penyakit. Jika pada satu tempat terjadi kasus epidemi (wabah penyakit), maka dianjurkan kepada masyarakat sekitar untuk segera berpuasa selama beberapa hari, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyebarannya karena puasa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

     Bahkan menjadi hal yang menarik karena Hipocrates seorang dokter yang dianggap bapak kesehatan modern mengatakan, “jika kamu merasa demam, sebaiknya kamu berpuasa”.  Hal senada juga dikatakan oleh Benjamin Franklin, “The best of all medicines are rest and fasting” (obat terbaik dari segala obat adalah puasa dan istrirahat). Inti dari sema ini adalah jika kita sakit, maka puasa adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi lamanya dan gejala rasa sakit. Hal ini dikarenakan puasa lebih bersifat detoksifikasi , suatu cara istirahat kimiawi (chemical rest) bagi organ-organ dalam tubuh.

     Sedemikian banyaknya manfaat puasa yang mungkin lebih banyak keutamaanya yang belum ditemukan manusia. Sehingga puasa bagi umat Muslim menjadi kewajiban seperti dalam  firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183 :

َÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ آمَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِÙŠْÙ†َ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."
     Sedangkan Rasulullah sendiri bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim : “Bahwa puasa itu perisai (junnah)”. Perisai dalam hal ini dapat diartikan sebagai benteng (yang melindungi) manusia dari penyakit baik secara jasmani maupun rohani. Misalnya penyakit sombong, mengumbar hawa nafsu, dan berlebihan (boros).

     Demikianlah tidak ada satupun kewajiban yang tidak membawa kemanfaatan bagi kita, maka wajib pula bagi kita untuk menjalankannya dengan penuh keiklasan dan rasa syukur.

Ditulis Oleh : Dhahir Tamam

Sumber :
Anti Aging . 2005. Fasting and Cleansing Program. www.AntiAging-Europe.com
Azwar Bahar. 2005. Manfaat Puasa Menurut Ilmu Kesehatan. Tangerang : PT Kawan Pustaka.
Narulita Sari. 2004. Sehat dengan Puasa; dalam Hidayah.









Jumat, 09 Desember 2011

MANUSIA LISTRIK


Pernah menonton film x men ? didalam cerita karangan Marvel tersebut salah satu tokohnya adalah si manusia listrik apakah itu hanya cerita khayalan ataukah dapat terjadi dalam dunia nyata ? Ternyata dalam tubuh manusia mengandung listrik yang berarti pula dapat mengandung medan magnet. Beberapa informasi mengenai Manusia Listrik ini  pernah dilaporkan, antara lain : 
  1.  Jose Rafael Marquez Ayala, berusia 40 tahun, dari Puerto Rico terlihat seperti pria rata-rata, ia bekerja sebagai seorang service TV. Kehidupannya biasa-biasa saja. Jose memiliki obsesi untuk menciptakan listrik dalam workshop-nya. Jose mulai menyukai listrik saat ia masih remaja, ketika ia dengan sengaja mengalirkan listrik pada tubuhnya dan Jose menyadari bahwa sengatan listrik tersebut tidak memberikan rasa sakit terhadap dirinya. Jose dapat menggunakan listrik dari tubuhnya untuk menghidupkan TV, korek api mobil, dan bahkan menyalakan lampu bohlam.
  2. Debbie  wanita dari Brighton Inggris bisa menghidupkan dan mematikan lampu dengan kekuatan pikirannya, dia dinyatakan mengidap Street Light Interference syndrome, atau SLI, kemampuannya dipicu oleh emosi tinggi-nya, sehingga setiap kali Debbie merasa tertekan atau bersemangat, pikirannya memancarkan energi yang dapat mengganggu kinerja peralatan listrik bahkan membuat cahaya lampu jalan menjadi terang-redup.
3. Zhang Deke adalah seorang laki-laki berusia 72 tahun pensiunan pekerja jalan tol yang tinggal di barat daya China, tepatnya di Xinjiang, mengklaim bahwa tubuhnya dapat menjadi konduktor – menghasilkan – listrik 220V, yang oleh tetangga dan teman-teman dijuluki dengan sebutan ‘Manusia Ajaib‘.Tubuhnya lebih dari sekedar konduktor, dia juga dapat mengontrol aliran listriknya. Dengan melakukan beberapa penyesuaian ia dapat memanggang seekor ikan dengan tangannya hanya dalam waktu 2 menit. Karena kemampuannya, Deke suka dimintai tolong oleh teman dan keluarga untuk mengobati berbagai penyakit seperti rematik, encok dan sakit punggung. Ia mengobati mereka dengan cara mengalirkan aliran listrik yang telah disesuaikan lewat kelima jari tangannya. Efek penyembuhan dari bentuk elektro terapi ini dapat segera dirasakan oleh pasiennya. Dan tentu saja Deke melakukanpengobatan ini secara gratis tanpa bayaran. Sejak ia pensiun pada tahun 1994, Deke telah menjadi objek penelitian para ilmuwan di Xinjiang.

4. Frank Clewer  seorang pria Australia, dalam tubuhnya mengandung listrik statis yang sangat ekstrem. Suatu hari, Frank memasuki sebuah gedung perkantoran untuk memulai wawancara kerja. Ketika ia memasuki gedung tersebut, karpet yang diinjaknya segera terbakar. "Awalnya terdengar suara seperti kembang api menyala. Lima menit kemudian, karpet itu mulai terbakar." Kenang Frank. Semuanya menjadi panik dan petugas pemadam kebakaran segera dipanggil. Kebakaran berhasil diatasi sebelum api menyebar ke tempat lain. Ketika kembali ke mobilnya, Frank memegang sebuah plastik dan tidak butuh waktu lama, plastik itu meleleh di tangannya.Ketika petugas pemadam kebakaran mengadakan pengukuran dengan alat pengukur listrik, mereka menemukan kalau aliran listrik yang ada di tubuh Frank mencapai 40.000 volts.

5. Suparlan, pria berusia 59 tahun dari Surabaya. Pria dengan 9 anak dan 12 cucu ini memiliki kemampuan yang unik. Pria ini kebal dari sengatan listrik. Berawal dari coba - coba memegang kabel listrik, hingga akhir nya saat ini dia terbiasa dengan aliran listrik di tubuhnya. Akhirnya kebiasaan suparlan berlanjut sampai saat ini apalagi setelah ia menjadi instalator listrik di CV Seri Utama, Surabaya dan CV Indra Saputra, Probolinggo. Uniknya lagi, setruman listrik justru bisa memulihkan staminanya jika badannya sedang terserang pegal-pegal. Dengan memegang setrum yang cukup lama, badannya pun kembali segar. Walaupun kebal listrik, suparlan sejauh ini baru mencoba sebatas aliran listrik rumah.

6. Uus Kadarusman (Abah Petir) berasal dari Jawa Barat. Pria tinggi tegap, berkumis tebal dan bersuara lantang serta tegas, itulah adalah seorang PNS pada jajaran Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pria ini sudah terkenal di lingkungan kampus hingga wilayah kabupaten Sumedang sebagai manusia yang tubuhnya dialiri listrik ratusan watt. Tak sedikit pasien yang terkena serangan stroke, migran dan gangguan urat plus otot mengaku sembuh setelah disetrum sosok pria yang kini berusia 50 tahun. Sekali disengat listrik pasien terjatuh kemudian mereka merasakan adanya perubahan.

BAGAIMANAKAH PENJELASAN ILMIAH DARI SEMUA HAL MENGENAI MANUSIA LISTRIK INI ?

     Dalam pelajaran fisika dijelaskan bahwa lsitrik terbentuk dari loncatan-loncatan elektron pada sebuah benda. Sehingga apabila sebuah benda bermuatan negatif didekatkan dengan benda konduksi yang netral, maka elektron-elektron tersebut akan mengalir ke tanah.
Namun begitu jenis listrik dalam tubuh manusia adalah listrik statis. Istilah listrik statis itu sebenarnya merujuk kepada listrik yang terkumpul di permukaan sebuah objek. Kumpulan listrik ini akan tetap berada pada objek tersebut hingga ia dialirkan ke bumi atau dinetralisir dengan pelepasan (discharge). Pelepasan inilah yang kita sebut kesetrum. Kejutan atau setrum ini bisa dirasakan oleh seseorang jika mereka menyentuh sebuah objek yang mampu berfungsi sebagai konduktor, seperti logam, air atau bahkan tubuh manusia lain.

Secara normal, manusia bermuatan netral. Kalaupun ada perbedaan muatan, biasanya hanya terletak di satu titik kecil, seperti ujung jari. Elektron melompat dari ujung jari ke benda bermuatan positif, bila ujung jari ini bermuatan negatif. Ia melompat dari benda bermuatan negatif ke jari, bila jari bermuatan positif. Hasilnya adalah sensasi setruman kecil. Ini sering saya rasakan ketika bersama teman-teman latihan meditasi (Perguruan Silat Merpati Putih), dimana ada rasa “nggreng” ketika kedua jari (telunjuk dan ibu jari) hampir bersentuhan.


Untuk kasus kesetrum ketika menyentuh orang lain, hal ini sangat normal mengingat manusia bisa berfungsi sebagai konduktor listrik (Karena itu ketika kalian menyentuh seseorang yang sedang kesetrum listrik, kalian akan ikut kesetrum). Namun, setrum ini baru bisa dirasakan jika listriknya melebihi 4.000 volt (Tubuh setiap orang memiliki sensitiftas yang berbeda sehingga ukurannya tidak akan sama untuk semua orang).

Umumnya, listrik yang terkumpul hanya berkisar sekitar 5.000 volts. Namun dalam beberapa kasus, listrik yang diakumulasi bisa lebih besar. Seperti Frank, yang mengakumulasi listrik statis hingga mencapai 40.000 volt. Listrik statis dapat terbentuk disebabkan banyak hal misalnya bahan pada pakaian, karpet, panas, sandal, dll.  Dalam kasus Frank ketika petgas pemadam kebakaran menyelidiki ternyata penyebab kebakaran tersebut adalah pakaian yang dikenakan oleh Frank.

Waktu itu Frank mengenakan jaket yang terbuat dari bahan nylon sintetis dan kemeja wol. Pakaian itu telah menyebabkan Frank menumpuk listrik statis di tubuhnya. Ketika ia berjalan di atas karpet, listrik itu terlepas dari tubuhnya. Inilah yang menyebabkan kebakaran tersebut.

MANFAAT LISTRIK DALAM TUBUH MANUSIA

      
Meskipun  listrik dalam jumlah besar bisa membahayakan tubuh manusia, namun ada sebuah penelitian yang melaporkan manfaat listrik untuk meningkatkan IQ. 
Menurut para peneliti di Oxford University (dilaporkan dalam jurnal Current Biology) dengan menyalurkan arus listrik KECIL ke otak bisa bikin kita lebih muda mempelajari matematika. para peneliti menemukan bahwa dengan mengarahkan ke bagian otak yang disebut lobus parialis dapat meningkatkan kemampuan para relawan dalam memecahkan masalah numerik.

     
Mereka berharap penemuan ini dapat membantu mereka yang mempunyai masalah dengan diskaklkulia.Ahli lain mengatakan
, efek dari listrik ke fungsi otak lain akan diperiksa.

"Kami tidak meyarankan orang-orang untuk berkeliling dan menyetrum diri mereka" Dr. Cohen Kadosh
Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa satu dari lima orang mengalami kesulitan dengan matematika, tidak hanya mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah tetapi juga untuk mengelola kegiatan sehari-hari seperti mengatakan waktu dan mengelola uang. Diketahui bahwa aktivitas di dalam lobus parietalis memainkan peran penting dalam kemampuan ini. Dalam penelitian ini pertama kali medan magnet digunakan untuk mengganggu aktivitas otak, para relawan dengan diskalkulia mengalami gangguan dalam hal menghitung.

Penelitian terbaru melangkah lebih jauh, dengan menggunakan 1 miliamp untuk merangsang lobus paretialis pada beberapa mahasiswa.

Ini tidak dapat dirasakan dan tidak mengganggu fungsi otak yang lain. Dan ketika dinyalakan, mereka berusaha untuk memecahkan teka-teki simbol yang diberikan.

Ketika dialirkan dari kanan ke kiri para relawan dapat lebih cepat menyelesaikan teka-teki itu dibandingkan dengan mereka yang tidak diberi tegangan. Lain halnya dengan mereka yang diberi tegangan dari kiri ke kanan, mereka malah lebih lambat menyelesaikannya. Jadi, arah sangat penting disini.
Efeknyapun tidak berlangsung singkat, tapi bertahan lama, ketika dites lagi enam bulan kemudian, hasilnya masih sama.
"Rangsangan listrik tidak mungkin membuat kita menjadi Einstein masa kini, tapi ini dapat membantu masalah sehari-hari kita dengan matematika." Dr. Christopher Chambers. 

Sumber :


http://wijisaksono.wordpress.com