Senin, 31 Desember 2012

KETERAMPILAN BERTANYA



        Sebagai seorang guru perlu kiranya kita mulai memperbaiki cara kita mengajukan pertanyaan kepada siswa di kelas. Mengajukan pertanyaan ternyata bukan hal mudah dimana jenis pertanyaan yang kita ajukan dan cara mengajukannya ke siswa akan menggiring alur berfikir mereka dan akhirnya akan juga mempengaruhi jawaban mereka. 
        Terkadang kita jumpai kasus dimana seorang siswa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kemudian dia dianggap tidak mampu (bodoh). Paradigma ini mulai sekarang harus segera diubah terutama oleh para guru dikelas karena seorang siswa tidak dapat menjawab pertanyaan bisa disebabkan karena dua hal : dia tidak tau jawabannya atau dia tidak paham dengan apa yang ditanyakan (maksud soalnya). 
        Kita ambil contoh siswa kelas 1 SD diberi soal mengenai berapa luas pulau Jawa ? Karena siswa tersebut belum pernah mendapat informasi mengenai luas pulau Jawa tentu saja dia tidak mampu menjawabnya, meskipun dia tau apa yang ditanyakan. Atau seorang Batak ditanya Sopo Jenengmu ? (bhs Jawa : Siapa namamu?), pertanyaan itu tentu saja akan mampu dijawab olehnya seandainya tidak ditanyakan dalam bahasa Jawa, namun karena dia tidak menguasai bahasa Jawa maka dia tidak mampu menjawab. Tentu dalam kedua kasus diatas seorang guru tidak dapat menganggap siswanya bodoh jika kasusnya demikian.
        Dalam kasus dikelas keterampilan bertanya bisa menjadi seni tersendiri, seorang siswa dapat belajar dengan baik jika suasana lingkungan dalam hal ini kelas mendukung. Suasana komunikatif, interaksi yang intens antara guru-siswa dan siswa-siswa akan menjadi bagian yang mendukung keberhasilan pembelajaran. Sebagai seorang guru menjadi tugas yang sangat menarik jika mampu melibatkan siswa dalam KBM. Bagaimana dikelas siswa anak tertarik dan terlibat untuk mendapatkan sendiri jawaban dari kasus-kasus yang ada di lingkungan mereka. Anak terdorong untuk berani bertanya dan menjawab, mengemukakan pendapatnya tanpa merasa takut ataupun malu.

    Ada 3 tipe pertanyaan :

  1. Pertanyaan faktual hanya memiliki satu jawaban yang benar, seperti "Apa yang kamu makan untuk sarapan pagi ini?" Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja tergantung pada masing-masing siswa dan bersifat terkini. Namun jawabannya tidak selalu sederhana,  itu tergantung pada seberapa luas pertanyaannya misalnya pertanyaa tadi diperluas menjadi  "Mengapa tadi pagi kamu sarapan dengan nasi goreng?" ini merupakan  pertanyaan faktual yang dapat memiliki jawaban yang sangat rumit. Pertanyaan faktual biasanya dapat digunakan untuk membuat penyelidikan berbasis proyek, asalkan pertanyaan tersebut ada jawabannya  dan siswa memiliki ruang untuk eksplorasi.
  2. Pertanyaan interpretatif memiliki lebih dari satu jawaban, tergantung pada interpretasi mereka, siswa dapat memiliki jawaban yang berbeda, tetapi  harus didukung dengan bukti-bukti. Sebagai contoh, "Apakah sumpah pemuda pada masa 1928 perlu diperingati?" Jawabannya akan berbeda-beda  tergantung dari sudut pandang mereka.  Seorang guru penting untuk mengajukan pertanyaan penafsiran yang membangun satu sama lain karena siswa harus merujuk kembali ke teks. Pertanyaan penafsiran efektif untuk memulai diskusi kelas, untuk merangsang latihan bahasa lisan dan tertulis dan, kadang-kadang dapat menjadi tema  untuk Proyek berbasis inquiri.
  3. Pertanyaan evaluatif meminta beberapa jenis pendapat, keyakinan atau sudut pandang, sehingga mereka tidak memiliki jawaban yang salah. Meskipun demikian, jawaban yang bergantung pada pengetahuan dan pengalaman sebelumnya, sehingga dapat digunakan untuk memulai diskusi. Misalnya, "Apakah siswa SMP perlu mendapatkan materi  mengenai reproduksi ? Mengapa ?". Untuk menjawab pertanyaan evaluatif ini, disamping memerlukan ilmu pengetahuan yang mendalam masalah yang bersangkutan, juga memerlukan pengetahuan dan wawasan lain yang lebih luas. Pada tingkat ini, kerja kognitif yang dituntut dari siswa lebih tinggi.

Struktur Pertanyaan
        Dalam membuat pertanyaan ada baiknya guru mengetahui struktur partanyaan yang dapat merangsang adanya diskusi dan berfikir kritis dari siswa. Secara umum, mulailah dengan pertanyaan "bagaimana," "apa," "di mana," "mengapa" atau "ketika”. Terkadang guru memulai pertanyaan di kelas dengan "Silahkan kamu deskripsikan lagi ..." atau "Coba jelaskan mengapa ...?". Bila Anda bingkai pertanyaan dengan cara itu, Anda mengambil kendali dari proses pembelajaran karena Anda memberikan perintah serta meminta masukan. Itu sebabnya pertanyaan terbuka adalah yang terbaik untuk memunculkan pemikiran siswa secara jujur, kecuali Anda memiliki alasan khusus untuk seseorang/ siswa yang mengarah ke kesimpulan tertentu atau benar-benar membutuhkan fakta sebagai jawaban.
         Ada baiknya untuk menghindari pertanyaan dengan jawaban ya / tidak karena mereka biasanya buntu. Sebaliknya, pertanyaan terbuka, karena pertanyaan terbuka ini mampu :
  • mengundang pendapat, pikiran dan perasaan;
  • mendorong partisipasi;
  • menjalin hubungan;
  • merangsang diskusi, dan
  • menjaga keseimbangan antara fasilitator (guru) dan peserta (siswa).

        Cobalah bermain The Game Questions dengan siswa-siswa di kelas. Untuk memulai, dua siswa memutuskan topik pertanyaan. Satu orang dimulai dengan pertanyaan terbuka, maka siswa lain merespon dengan pertanyaan terbuka terkait. Ini berjalan bolak-balik selama mereka dapat melanjutkan tanpa membuat pernyataan atau mengulangi pertanyaan sebelumnya. Misalnya, topik mungkin obyek di dalam ruangan, seperti bola lampu :
A: Mengapa kita memerlukan cahaya?
B: Dari mana cahaya berasal?
A: Bagaimana cahaya mampu membantu orang ?
B:
Kapan cahaya digunakan?
A: Apa yang akan terjadi jika tidak ada cahaya?

Cobalah mengajukan pertanyaan dan terjadi di sekitar ruangan atau lingkungan sekitar, setiap orang mengajukan pertanyaan berdasarkan pada pertanyaan  sebelumnya.

diadaptasi dari :

http://www.youthlearn.org/learning/teaching/techniques/asking-questions/asking-questions
 

Selasa, 25 Desember 2012

Hollow Earth Theory


      Anggapan konvensional menyatakan bahwa lubang besar yang menganga di jalanan di Guatemala City disebabkan oleh banjir dari Badai Tropis Agatha. Akan tetapi beberapa pemikir konvensional mengatakan bisa jadi itu adalah bukti Teori “Bumi berongga" itu benar. 


     Teori bumi berongga atau hollow earth theory menyatakan bahwa “perut bumi’ pada dasarnya terdiri dari ruang kosong, atau berongga. Ide ini sebenarnya telah ada sejak zaman kuno.
     Tetapi banyak ilmuwan yang membantah Teori Bumi Berongga ini. Mereka menunjukkan bahwa jika Bumi berongga, massanya akan jauh lebih kecil dan gravitasi pada permukaan luar akan jauh lebih rendah dari yang ada sekarang. Dengan mengamati getaran melewati dari satu ujung planet ke yang lain, para ilmuwan telah mampu menghitung struktur Bumi. Dan mereka mengatakan tidak struktur berongga.
     Tapi teori masih berlimpah. Bahkan, sebuah situs di web yang mengklaim bahwa Teori Bumi berongga itu benar adanya menyatakan : bahwa Ada banyak bukti yang saat ini muncul ke permukaan yang melemparkan keyakinan kita mengenai struktur planet kita yang kita pegang hingga sekarang ke dalam keraguan yang serius.
     Lubang yang menganga di Guatemala City itu berbentuk lubang bulat sempurna adalah sedalam 65 kaki dengan diameter, 100 kaki. Warga di lingkungan itu, menyebutnya Ciudad Nueva, telah lama membicarakan tentang jalan-jalan yang aneh. Laporan surat kabar setempat mengatakan bahwa penduduk merasa bahwa ada ruang kosong di tempat-tempat tertentu.
     Menurut warga setempat Diaz Karla, "Selama bertahun-tahun kita mendengar kabar burung keras datang dari tanah. Orang melaporkan hal ini, bersama dengan lubang acak yang akan muncul di trotoar, tapi tak seorang pun ada berniat menyelidiki. "

Mungkin Ciudad Nueva memang fenomena lingkungan dengan konstruksi pondasi yang buruk. Tapi bisa jadi juga itu adalah sesuatu pintu masuk ke bumi beronggaSumber: Berman, Mark , 2010, Is Giant Guatemala City Sinkhole Proof of Hollow Earth Theory?,

http://www.opposingviews.com 

Temukan keterangan lebih komplit mengenai fenomena tentang teori bumi beronggga ini dalam buku “Peradaban Lain Tepat Di Bawah Kaki Kita; Antara Fiksi dan Fakta”