Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah,
beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam
puja dan harap
pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk
dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya. Muhammad
SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki laki itu
merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang
kembali perintah “Iqra!” Muhammad memberikan jawaban
yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga
kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan
lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu
pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui
Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira. Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari
Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan
saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan
dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Belahan
jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya
dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa
yang dialami
Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun
amanah yang akan sanggup ia jalankan.
Dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para instruktur
yang juga para psikolog tengah mengajarkan berbagai
terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan, baik
antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya. Namun demikian,
mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia melakukan
pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner pelukannya
dengan yang sejenis. Yang penting tetap berupa terapi
pelukan. Menurut mereka, pelukan adalah sebuah terapi paling
mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya. Pelukan
akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari
yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan
urat syaraf yang tegang. Hal ini juga dibenarkan dari
hasil penelitian bahwa, kita butuh empat kali pelukan per hari
untuk bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua belas
kali untuk pertumbuhan. Jika ingin terus tumbuh, kita butuh dua belas pelukan per hari. Pelukan berkhasiat menyehatkan tubuh. Pelukan
merangsang kekebalan tubuh kita. Pelukan membuat kita merasa istimewa. Pelukan
memanjakan sifat
kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat
kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman. Riset
membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah
fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless ini. Bukan hanya itu saja, para ahli
mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang umur,
melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi, mempererat
hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak. (The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen.”) Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan
bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam
darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak
lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat proses
penyembuhan. Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bias menyembuhkan
penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan
oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan
cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon
penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh. Hasil
hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas
kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan
ketenangan dan kehangatan melalui pelukan. Penelitan
tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya energi
yang dapat disalurkan melalui pelukan.
***
Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya
pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin
merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk. Kita
mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering memeluk
atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita. Dan jadilah
kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan
energi pelukan. Bisa
jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah satu
faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya angka
kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja, kesurupan
di berbagai sekolah dan sebagainya. Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan
itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan
kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang tuanya.
Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan pelukan
kasih sayang? Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah
mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan
bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun yang
pernah ia curahi dengan peluk cium. Rasulullah saat itu berkomentar, “Sungguh orang
yang tidak mau menyayang
(sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)
***
So mulai sekarang, jangan ragu untuk memeluk ataupun minta dipeluk.
Apa yang kita perlukan saat kita marah, sedih ataupun kecewa
adalah sebuah pelukan, pelukan sayang dari suami, orang
tua atau orang yang kita kasihi.Pelukan itu dapat menenangkan,
membuat kita merasa nyaman dan disayang. Begitu
juga setelah adanya perang mulut atau berantem antara suami
istri? Saling memeluklah. Karenan pelukan itu akan menurunkan
emosi dan menenangkan hati. Pelukan itu akan merekatkan
kembali ikatan cinta antara suami istri setelah luka dan
kecewa yang sempat tertoreh. Pelukan itu, akan membuat kehidupan
rumah tangga menjadi makin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan
segala beban hilang
oleh kehangatan pelukan. Selanjutnya jadikanlah pelukan sebagai
suatu kebiasaan dalam menjalani hari-hari. Hal pertama yang
saya inginkan ketika tiba di rumah sepulang dari kantor atau
dari bepergian adalah memeluk istri. Memeluknya erat-erat. Itu
saja. Tak Lebih. Hal pertama yang saya inginkan ketika saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk istri saya. Memeluknya
kuat-kuat. Itu saja. Bukan yang lainnya. Jika
kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘utang’ kebiasaan
itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh. Jika kami
tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau habis
shubuh, salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya. Hanya
untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk. Saat
malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling memeluk,
berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas kami
seharian. Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan
kepada istri saya, “I Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya
ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari. Pelukan
memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya rasakan
memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.
Berani mencoba?
Sumber artikel, dari
buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber
Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2.
Hal. 440-444. ISBN 978-6028-686-938.
Jumat, 13 April 2012
Kamis, 12 April 2012
Bagaimanakah Membuat Proposal PTK?
PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) merupakan penelitian yang dilakukan di dalam kelas guna
memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada
kelas tertentu. Namun tidak semua kelas
dilakukan PTK, hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang
dianggap bermasalah, atau poses belajar mengajar kelas tersebut tidak optimal
atau yang lainnya. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur
yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu :
- PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apabila dalam kelas tersebut terdapat masalah
- PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
- PTK memang harus diadakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang
sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran di kelas apabila diimplementasikan
dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang
terlibat (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi
dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan
bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi
dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat
keberhasilannya sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.
Identifikasi masalah merupakan langkah awal dalam
pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal ini karena PTK bertolak dari
adanya permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Tanpa
adanya permasalahan, langkah-langkah berikutrnya tidak akan bisa direncanakan
dan PTK tidak dapat dilakukan. Setelah menyadari adanya masalah, guru
memikirkan cara untuk memecahkannya dalam rangka peningkatan kualitas
pembelajaran yang dikelolanya.Berdasarkan hal tersebut ,tahapan ini sangat
penting dilakukan sebagai modal dasar untuk perbaikan kinerja guru dalam
pembelajaran.
Ketrampilan mengidentifikasi masalah merupakan langkah
pertama PTK yang akan dilakukan. Hal ini dapat dilakukan pada saat
merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam refleksi diingat kembali
kejadian atau hal-hal yang membuat guru tidak puas. Masalah yang merupakan
kesenjangan antara yang diharapkan dan kenyataan, jadi dapat berupa situasi
yang tidak memuaskan.
Contoh daftar masalah dalam pembelajaran
Contoh daftar masalah dalam pembelajaran
- Masalah Praktik Pembelajaran
- Kesulitan guru dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan KD yang akan dipelajari
- Kesulitan guru dalam mengoptimalkan kerja kelompok siswa.
- Kesulitan siswa dalam membangun atau menemukan konsep sendiri
- Kesulitan guru dalam mengembangkan LKS untuk mengembangkan ketrampilan berpikir siswa.
- Kesulitan guru dalam mengembangkan materi menjadi bahan ajar.
- Kesulitan guru dalam memilih metode yang sesuai dengan KD
- Guru kurang memberdayakan media pembelajaran yang ada .
- Siswa kurang berani mengungkapkan pendapat
- Siswa tidak mau tampil di depan kelas.
- Motivasi siswa untuk belajar IPA rendah
- Siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
- Siswa tidak memperhatikan penjelasan guru.
Banyak sekali masalah yang ditemukan dalam proses
pembelajaran di sekolah. Tentu para guru diminta untuk mencari solusi dari
masalah-masalah itu. Untuk mencari solusi dari masalah itu diperlukan sebuah
penelitian. Dari sinilah dimulai sebuah penelitian yang dimulai dari melihat,
membaca, menulis, meneliti dan melaporkannya dalam bentuk laporan PTK. Karena
itu guru dituntut untuk mampu membuat proposal PTK-nya sendiri guna memecahkan
masalah yang ada dalam proses pembelajarannya. Dalam membuat proposal PTK
biasanya para guru mengacu kepada format PTK dari Depdiknas yang terdiri dari :
A.
JUDUL PENELITIAN
Setelah kita membahas bagaimana cara menemukan
masalah, langkah selanjutnya adalah membuat Judul Penelitian. Dalam membuat
judul penelitian, beberapa hal yang harus diketahui adalah judul itu harus:
- Komunikatif, mudah dipahami maksudnya oleh pembaca
- Memuat variabel penelitian
- Menjawab apa yang ingin ditingkatkan
- Cara/upaya apa untuk meningkatkannya.
- Sasaran dan Lokasi tercermin dalam judul
- Banyak kata sekitar 15-20 kata
Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili
gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk
menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi. Alasan
pemilihan judul juga harus:
- Menarik minat
- Layak diteliti
- Bermanfaat bagi masyarakat, dll.
Contoh judul penelitian Tindakan kelas antara lain :
- Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS) Pokok Bahasan Kimia Lingkungan Melalui Pembuatan Film tentang Pencemaran Lingkungan Sekitar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak 1 SMK Negeri 8 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (Oleh : Ardan Sirodjuddin, S.Pd.)
- Pembelajaran Berbasis Project Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari Tahun Pelajaran 2007/2008 (Oleh : Dra. Sri Wahyuni Dwiyanti M.Pd).
- Penggunaan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas III IPS SMA Negeri 1 Randublatung Pada Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. (Oleh : Juremi)
- Penggunaan “Dakon Elektron” Dalam meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA Kelas I Kecantikan Kulit Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2004/2005 SMK Negeri 1 Tegal (Oleh : Ibnu Hajar Dewantoro).
B. PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan
pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan harus dikemukakan:
1. Latar
belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:
- Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester, mata pelajaran yang ditunjang dan mata pelajaran penunjang);
- Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan);
- Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.
2. Masalah yang
dihadapi guru ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa selama proses
pembelajaran.
Kriteria
masalah yang dapat dibuat PTK adalah :
- Masalah di sekolah/di kelas
- Layak diteliti dan terjangkau PTK
- Perlu ada: identifikasi masalah; analisis masalah.
- Rumusan masalah: singkat; jelas; operasional.
- Bukan permasalahan individual siswa, tetapi masalah kelas;
C. PERUMUSAN
MASALAH
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan
penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi,
dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya
menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan
diambil dan hasil positif yang diantisipasi.
Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti
merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak
untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya,
selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah
tersebut.
Pada perumusan
masalah perlu diperhatikan :
·
Substansi:
Perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipilih untuk
meningkatkan dan/atau memperbaiki pembelajaran
·
Orisinalitas (tindakan):
Perlu mempertimbangkan belum pernah tidaknya tindakan dilakukan guru
sebelumnya
Formulasi: dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, lugas
menyatakan secara eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya, dan
tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut
·
Teknis:
Mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian, seperti
kemampuan metodologi penelitian, penguasan materi ajar, teori, strategi dan
metodologi pembelajaran, kemampuan menyediakan fasilitas (dana, waktu, dan
tenaga).
Contoh
perumusan masalah :
1. Apakah pembelajaran berbasis project dapat
meningkatkan prestasi belajar geografi khusus kompetensi dasar keterampilan
dasar peta dan pemetaan pada siswa kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari
tahun 2007/2008 ?
2. Apakah pembelajaran berbasis project dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada kompetensi dasar
keterampilan dasar peta dan pemetaan kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari
tahun 2007/2008 ?
3. Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat
meningkatkan kualitas proses belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
4. Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat
meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?
D. TUJUAN
PENELITIAN
Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin
dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan
khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.
E.
KONTRIBUSI/MANFAAT PENELITIAN
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas
pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru,
maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari
penelitian ini.
F. KAJIAN/TINJAUAN
PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang
menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan
teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang
dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan
dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini
digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan
dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang
menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi.
Tata cara perujukan pustaka/artikel
dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun diantara tanda kurung. Jika
ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir kedua
penulis tersebut. Jika penulisnya lebih dari dua orang, penulisan rujukan
dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari penulis tersebut diikuti dengan
dkk. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah
nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan atau nama koran.
Contoh:
Soebronto
(1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi
dengan kemajuan belajar”.
Kesimpulan
dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial
ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990:123)
Jika
ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘…..’).
Kesimpulan
dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur
tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di
daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).
G.
PROSEDUR PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan
dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas.
Prosedur hendaknya dirinci dari
perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau
siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat
keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya.
Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.
H. JADWAL
PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi
kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam
bentuk bar chart. Contohnya, jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10
bulan.
I. PERSONALIA
PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan
peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian
yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga
tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan. Tuliskan bidang ilmu
(Jurusan) dari Ketua Peneliti dan kajian masalah yang diteliti. Bidang
penelitian yang diteliti sebaiknya relevan dengan disiplin ilmu guru, misalnya
guru matematika tidak membahas pembelajaran yang ada di pelajaran Biologi.
Begitupun sebaliknya. Terkecuali penelitian yang ditekuninya masih ada
hubungannya dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Contohnya pembuatan media
pembelajaran.
J. DAFTAR
PUSTAKA (SEMENTARA)
- a) Rujukan Dari Buku
Tahun penerbitan ditulis
setelah nama penulis, diakhiri dengan titik. Judul buku ditulis dengan huruf
miring, dengan huruf besar pada awal setiap kata, kecuali kata hubungan. Tempat
penerbitan dan nama penerbit dipisahkan dengan titik dua (:)
Contoh:
Strunk, W. Jr. & White, E.B. 1979. The
Element of Style (3rd ed.). New York: Macmillan.
- b) Rujukan dari buku yang berisi kumpulan artikel (ada editornya)
Contoh:
Amunuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian
Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang
dan YA3.
- c) Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbitkan oleh Suatu Penerbit Tanpa Penulis dan Tanpa Lembaga.
Judul atau nama dokumen ditulis di bagian awal
dengan cetak miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota penerbit dan nama
penerbit.
Contoh:
Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl, 1990.
Jakarta: PT. Armas Duta Jaya.
- d) Rujukan Dari Internet Berupa Karya Individual
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan
cetak, diikuti secara berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut (dicetak
miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (on line), dan diakhiri dengan
alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses,
diantara tanda kurung.
Contoh:
Hitchcoeck,
S., Carr, L. & Hall, W. 1996. A
Survey of STM Online Journals, 1990-95: The Calm Before the Storm,
(Online), (http://journal.ecs.saton.ac.uk/survey/ Survey.html,
diakses 12 Juni 1996).
Ditulis oleh : Esti W Mulyanto
Sumber: http://id.shvoong.com
Rabu, 22 Februari 2012
TEORI BELAJAR
Live Long Education,
merupakan pepatah barat yang kira-kira dapat diartikan bahwa belajar adalah
pekerjaan sepajang hayat. Untuk seseorang dalam hal ini pebelajar (orang yang
sedang belajar/siswa) mampu melakukannya maka diperlukan penciptaan lingkungan yang
mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab pebelajar untuk
melakukannya sepanjang hayat. Dalam tulisan Lazanov (1978) yang dikutip oleh
DePorter, B.,( 2002: 3) dalam bukunya Quantum Learning, mengatakan bahwa sampai
sejauh mana seorang guru mampu mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan
pengajarannya, maka sejauh itu pula proses belajar mengajar itu berlangsung Ini
berarti. Sehingga dalam pembelajaran diharapkan dapat mengarahkan perhatian siswa ke dalam nuansa proses belajar seumur hidup dan tak terlupakan.
Menurut
Gagne (1977), belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi
setiap pribadi (hasil) yang merupakan hasil transformasi rangsangan yang
berasal dari peristiwa eksternal dilingkungan pribadi yang bersangkutan
(kondisi). Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan
dalam urutan peristiwa pembelajaran berupa metode pembelajaran ( Miarso, 2004).
Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu dalam dirinya telah terjadi
perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Jadi hasil
belajar merupakan pencapaian tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk
dari proses belajar. Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks,
dimana melibatkan setiap kata, pikiran, tindakan, dan juga asosiasi. Menurut
Sadia (2006) terdapat empat pilar pendidikan seumur hidup yang ditetapkan oleh
UNESCO, yaitu 1) to learn to know (belajar untuk berpengetahuan), 2) to learn
to do (belajar untuk berbuat), 3) to learn to live together (belajar untuk
dapat hidup bersama), dan 4) to learn to be (belajar untuk jati diri).
Banyak
studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya
memuaskan, menantang, dan ramah. Untuk itu diperlukan membangun ikatan
emosianal dengan siswa, yaitu dengan menciptakan kesenangan dalam belajar,
menjalin hubungan, dan menyingkirkan ancaman. Hal ini merupakan faktor yang
perlu diperhatikan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Dengan
kondisi seperti itu, siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan sukarela yang
berhubungan dengan bahan pelajaran (Walberg, 1997 dalam DePorter, B., 2002:
23). Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap
fenomena belajar dan pembelajaran yang terdapat dalam Teori Belajar.
Ada
beberapa pendapat yang rancu mengenai Teori Belajar dan Teori Pembelajaran.
Menurut Bruner dalam Degeng, (1989), Teori belajar adalah deskriptif, karena
tujuan utamanya memeriksa proses belajar. Sedangkan teori pembelajaran adalah
preskriptif, karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal
(Budiningsih, 2005: 11). Teori belajar lebih fokus kepada bagaimana peserta
didik belajar, sehingga berhubungan dengan variabel-variabel yang menentukan
hasil belajar. Dalam teori belajar, kondisi dan metode pembelajaran merupakan
variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung. Dengan
demikian, dalam pengembangan teori belajar, variabel yang diamati adalah hasil
belajar sebagai efek dari interaksi antara metode dan kondisi. Hasil yang
diamati adalah hasil pembelajaran nyata (actual outcomes) dalam pengertian
probabilistik, yaitu hasil pembelajaran yang mungkin muncul, dan bisa jadi
bukan merupakan hasil pembelajaran yang dinginkan. Oleh karena teori belajar
adalah deskriptif.
Teori
Belajar sebenarnya sudah ada sebelum abad ke-20, yang termasuk didalamnya
adalah disiplin mental, teori pengembangan alamiah, dan teori apersepsi. Teori
belajar sebelum abad ke-20 dikembangkan berdasarkan pemikiran filosofis atau
spekulatif, tanpa dilandasi eksperimen. Setelah abad ke-20 mulailah para ahli
merumuskan Teori Belajar yang diperoleh dari berbagai eksperimen yang kemudian
dibagi dalam dua kategori yaitu : teori belajar perilaku (behavioristik) dan
teori belajar Gestalt-field. Teori belajar perilaku (behavioristik),
berlandaskan kepada stimulus-respons sedangkan teori belajar Gestalt-field,
berlandaskan kepada segi kognitif (Ali, 2000: 20). Sehingga dapat dikatakan
bahwa aliran behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang nampak
sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif lebih menekankan pada
pembentukan perilaku internal yang sangat mempengaruhi perilaku yang nampak
tersebut.
Teori Belajar
Behavioristik
Beberapa teori belajar perilaku (behavioristik), diantaranya Teori Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov dan didukung oleh John B Watson, Teori Law Of Effect oleh Edward Lee Thorndike dengan pendukungnya Clark Hull, serta Teori Operant Conditioning oleh Skiner (Dahar, 1989: 39). Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gagne, Berliner, 1984). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus (apa yang diberikan guru) dan output yang berupa respon (reaksi/ tanggapan siswa terhadap stimulus), sedangkan proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila stimulus dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin lemah atau bahkan hilang.
Teori Belajar Kognitif / Kostuktivisme
Sedangkan
teori belajar kognitif, meliputi teori belajar bermakna oleh Ausubel, teori
belajar pemahaman konsep oleh Jerome Bruner, teori Webteaching oleh Norman, teori
Hirarki belajar oleh Gagne, teori belajar Gestalt-field, dan teori perkembangan
oleh Piaget. Teori Piaget biasa juga
disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif.
Teori belajar Piaget berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas
dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa (ada 4 tahapan).
Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri
tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan teori
Piaget sangat berkaitan dengan teori belajar konstruktivistik (Ruseffendi, 1988 dalam Hamzah, 2001). Pernyataan
ini didukung oleh Sadia (2006), yang mengemukakan bahwa pandangan
konstruktivisme berakar pada teori struktur genetik Piaget. Berdasarkan teori
perkembangan kognitif yang dikembangkannya, Piaget juga dikenal sebagai
konstruktivis pertama.
Teori
konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.
Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka
harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, keaktifan siswa menjadi unsur yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan
belajar. Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting
dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan
pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam
benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi
kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan
mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka
sendiri untuk belajar.
PERBEDAAN ANTARA KE DUA TEORI
|
NO
|
TEORI
BEHAVIORISME
|
TEORI
KONSTRUKTIVISME
|
|
1
|
Memiliki paradigma keteraturan
|
Memiliki paradigma
kesemrawutan/ tidak teratur
|
|
2
|
Pengetahuan adalah objektif, pasti, dan tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.
|
Pengetahuan adalah non-objective, temporer, selalu berubah,
dan tidak menentu.
|
|
3
|
Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar
adalah memindah-kan pengetahuan ke orang yang belajar.
|
Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit,
aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah
menata lingkungan agar siswa Termotivasi dalam menggali makna serta
menghargai ketidakmenentuan.
|
|
4
|
Mementingkan hasil belajar
|
Menitikberatkan pada proses perolehan pengetahuan
|
|
5
|
Siswa diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap
pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh guru itulah yang
harus dipahami oleh siswa.
|
Siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap
pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam
menginterpretasikannya.
|
|
6
|
Fungsi pikiran adalah men-jiplak struktur pengetahuan melalui
proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang
dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik
struktur pengetahuan
|
Fungsi pikiran sebagai alat untuk menginterpretasi peris-tiwa,
objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang
dihasilkan bersifat unik dan individualistik
|
Ditulis oleh : Esti W Mulyanto
Referensi :
Dahar, R.W.
1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: P2LPTK
DePorter, B.
2002. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang Ruang Kelas.
Penerjemah, Ary Nilandari. Edisi 1. Cetakan ke-10. Bandung: Kaifa
Sadia, I W.
2006. Model Pembelajaran Konstruktivistik (Suatu Model Pembelajaran Berdasarkan
Paradigma Konstruktivisme). Materi Perkuliahan Landasan Pembelajaran. PPS
Undiksha Singaraja
Minggu, 19 Februari 2012
PUASA DAN KESEHATAN MANUSIA
Puasa atau bahasa Inggrisnya : Fasting bagi umat muslim bukan hal yang baru, salah satu rukun
Islam adalah puasa pada bulan ramadhan. Suatu
hal yang menjadi wajib tentunya memiliki
alasan yang sangat mendasar kenapa Allah SWT menetapkan demikian. Sebagai salah satu kewajiban dalam agama
banyak orang yang melaksanakan puasa hanya sebagai kewajiban, tanpa
menyadari batapa banyak keuntungan yang
akan kita peroleh ketika melaksanakan kewajiban tersebut dari segi kesehatan.
Berikut ini beberapa penelitian menunjukkan fakta bahwa
banyak organ dalam tubuh kita yang menjadi lebih sehat setelah kita menjalankan
puasa (fasting). Organ-organ tersebut antara lain : Hati, Ginjal, Kulit, Mata, Lambung,
Telinga, Paru-paru.
Sebuah
penelitian di Osaka Jepang, tahun 1930, menemukan fakta bahwa puasa mampu
menaikkan kadar Leukosit darah yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh. Dalam penelitiannya
ditemukan bahwa pada hari 1 sampai kari ke 6 berpuasa tidak terdapat
pembentukan sel darah putih yang signifikan, setelah hari ke 7 sampai 10
penambahan jumlah sel darah putih meningkat pesat.
Penelitian terbaru pada tahun 1997 yang berjudul Alteration
in Lymphocyte Subsets and Pituitary-Adrenal Gland-Related Hormones During
Fasting memperkuat penelitian sebelumnya dengan penelitian pada pasien
ganggan psikosomatik menyebutkan bahwa puasa 7-10 hari dapat meningkatkan
aktivitas NK cell (Natural Killer/ sel pembunuh kuman ) secara signifikan.
Dalam artikelnya situs AntiAging-Europe.com juga menyebutkan
bahwa puasa dapat mencegah dan menyembuhkan infeksi, meningkatkan kandungan
Immunoglobulin dalam tubuh juga monocytes dan lympocyte.
Dr Otto Buchinger, seorang dokter dari Jerman melakukan
penelitian mengenai puasa. Dalam
resepnya dia menyarankan pasiennya menjalankan puasa. Dalam beberapa hari
berpuasa, telah terjadi peruntuhan zat-zat yang mengganggu atau zat yang
menjadikan tubuh sakit misalnya zat-zat asing, nanah, getah penyakit dsb.
Dengan berpuasa bahan-bahan tersebut akan kekurangan makanan sehingga meluruh
dan diambil oleh darah untuk dikeluarkan. Dalam penelitian ini Dr Buchinger
juga menemukan bahwa puasa dapat mempercepat penyembuhan penyakit radang selaput
paru, telinga dan bisul. Selain itu puasa juga menurunkan suhu tubuh sampai 0,5-1
derajat, banyaknya urine berkurang sehingga lebih banyak mengandung darah
(darah kotor yang memang harus keluar). Puasa juga mempengaruhi hati (lever), dimana dengan berpuasa maka
kebuthan energi diambilkan dari glikogen, yang apabila sudah habis akan
diambilkan dari lemak. Hal ini menyebabkan aktivitas empedu meningkat tapi lama-lama akan berkurang. Kandungan empedu
cenderung untuk mengempis dengan cepat sehingga kersik, lendir dan batu-batu
akan keluar bersama dengan kotoran.
Puasa bagi terapi penderita Diabetes sudah bukan menjadi hal
baru, dalam bukunya Dr Bahar Azwar mengemukakan hubungan puasa dengan kerja
kelenjar pankreas. Dimana pada orang yang berpuasa, pada saat kekurangan energi,
otak akan memaksa kelenjar pankreas untuk mengeluarkan hormon insulin yang
dapat mengurai glikogen yang tersimpan. Bila energi yang didapat dari penguraian glikogen maka
lemak yang menumpuk diberbagai tempat (pembuluh darah koroner, bawah kulit, dll) akibatnya kerja
jantung, hati usus dan ginjal akan lebih ringan karena lancarnya suplay
oksigen.
Hal menarik juga pernah dikemukakan Dr Tilden bahwa puasa dalam
jangka waktu yang cukup dapat mencegah timbulnya hampir semua penyakit akut. Hal
tersebut karena dengan berpuasa akan menurunkan akumulasi toksin dibawah batas
toleransi. Puasa mampu membentuk satu kekebalan yang dapat bertahan dari segala
penyakit. Jika pada satu tempat terjadi kasus epidemi (wabah penyakit), maka
dianjurkan kepada masyarakat sekitar untuk segera berpuasa selama beberapa
hari, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyebarannya karena puasa dapat
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Bahkan menjadi hal yang menarik karena Hipocrates seorang
dokter yang dianggap bapak kesehatan modern mengatakan, “jika kamu merasa
demam, sebaiknya kamu berpuasa”. Hal
senada juga dikatakan oleh Benjamin Franklin, “The best of all medicines are
rest and fasting” (obat terbaik dari segala obat adalah puasa dan istrirahat). Inti
dari sema ini adalah jika kita sakit, maka puasa adalah salah satu cara yang
dapat kita lakukan untuk mengurangi lamanya dan gejala rasa sakit. Hal ini
dikarenakan puasa lebih bersifat detoksifikasi , suatu cara istirahat kimiawi
(chemical rest) bagi organ-organ dalam tubuh.
Sedemikian banyaknya manfaat puasa yang mungkin lebih banyak
keutamaanya yang belum ditemukan manusia. Sehingga puasa bagi umat Muslim
menjadi kewajiban seperti dalam firman Allah
SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183 :
َيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."
Sedangkan Rasulullah sendiri bersabda yang
diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim : “Bahwa puasa itu perisai (junnah)”. Perisai
dalam hal ini dapat diartikan sebagai benteng (yang melindungi) manusia dari
penyakit baik secara jasmani maupun rohani. Misalnya penyakit sombong,
mengumbar hawa nafsu, dan berlebihan (boros).
Demikianlah tidak ada satupun kewajiban yang tidak membawa kemanfaatan bagi kita, maka wajib pula bagi kita untuk menjalankannya dengan penuh keiklasan dan rasa syukur.
Ditulis Oleh : Dhahir Tamam
Sumber :
Anti Aging . 2005. Fasting and Cleansing Program. www.AntiAging-Europe.com
Azwar Bahar. 2005. Manfaat Puasa Menurut Ilmu Kesehatan.
Tangerang : PT Kawan Pustaka.
Narulita Sari. 2004. Sehat dengan Puasa; dalam Hidayah.
Langganan:
Postingan (Atom)