Kamis, 24 Januari 2013

essential question



essential question (pertanyaan esensial)

  •  Apa yang dimaksud dengan pertanyaan esensial ?
Merujuk pada artikel sebelumnya mengenai keterampilan bertanya, dalam artikel kali ini saya akan membahas mengenai pertanyaan esensial (essential question). Menurut Jacobs (1997) pertanyaan esensial sering menjadi alat untuk membuat kejelasan dan presisi juga digunakan untuk mengkomunikasikan bagian penting dari ide-ide, subjek atau disiplin. Bagi  siswa pertanyaan esensial berfungsi sebagai rambu-rambu dalam pemecahkan masalah, membaca, bertanya, menyaring dan mengurutkan pengetahuan dan keterampilan yang terkait.
 Definisi lain dari pertanyaan esensial  menurut  MathStar NM adalah: “ Pertanyaan-pertanyaan yang memiliki makna lebih dalam, orang-orang yang mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan lebih tinggi seperti pemecahan masalah dan memahami sistem yang kompleks. Sebuah pertanyaan esensial yang baik adalah komponen utama merancang pembelajaran berbasis penyelidikan.
Siswa harus berpikir kritis untuk menjawab pertanyaan esensial. Bukan hanya mencari jawaban, mereka dituntut melakukan penelitian dan membuat jawaban asli. Pertanyaan esensial  dapat ditemukan di bagian atas Taksonomi Bloom (Bloom, 1954). Pertanyaan esensial  menuntut  pembaca untuk dapat : meng-EVALUASI (membuat pilihan bijaksana antara beberapa pilihan, dengan pilihan berdasarkan kriteria yang dinyatakan dengan jelas); Mensintesis (menciptakan sebuah versi baru atau berbeda); dan meng-ANALYZE (mengembangkan pemahaman yang menyeluruh dan kompleks melalui keterampilan bertanya). 

  • Bagaimanakah menyusun pertanyaan esensial ?
Menurut  Keren Perles (2011), ada 5  langkah dalam penyusunan pertanyaan esensial :

1. Pilih Konsep Utama
Langkah pertama untuk menulis pertanyaan  esensial  adalah menuliskan konsep utama yang akan  Anda ajarkan ke  siswa. Meskipun ini mungkin tampak sederhana, banyak guru menemukan bahwa setelah mereka menuliskan apa yang mereka coba untuk ajarkan, mereka menyadari bahwa mereka harus benar-benar fokus pada sesuatu yang sama sekali berbeda. Sebagai contoh, seorang guru mungkin menulis bahwa ia sedang mencoba untuk mengajar "ketujuh urutan taksonomi  dalam sistem klasifikasi modern," dan kemudian menyadari bahwa tujuan utamanya bukan supaya siswa mampu  menghafal urutan  taksonomi  ini sama sekali. Namun siswa dapat memahami alasan mengapa para ilmuwan mengklasifikasikan organisme dan bagaimana mereka melakukannya.

2. Ubahlah ke Pertanyaan
Langkah berikutnya dalam menulis pertanyaan esensial adalah mengubah pernyataan dalam konsep utama menjadi sebuah pertanyaan yang sebenarnya. Sebagai contoh, Anda dapat  mengubah konsep "klasifikasi organisme" menjadi pertanyaan  "Mengapa ilmuwan mengklasifikasikan organisme?", "Bagaimana ilmuwan mengklasifikasikan organisme?", Atau "Apa yang dimaksud dengan klasifikasi organisme?" Bahkan, Anda mungkin menemukan bahwa satu konsep dapat dibagi menjadi tiga pertanyaan esensial.
3. Apa yang disukai Siswa
Pikirkan tentang pertanyaan apa yang kira-kira paling banyak  menarik siswa  dari pertanyaan pertanyaan yang Anda tuliskan. Pertanyaan apa yang paling dapat memprovokasi dan tampak paling penting dalam konteks kehidupan siswa Anda? Pertanyaan juga harus menggiring para siswa untuk benar-benar menggunakan pengetahuan mereka dalam rangka menjawabnya. Dalam langkah ini, pilih pertanyaan-pertanyaan  yang tampaknya paling cocok kriteria ini.
4. Perbaiki Isi Pertanyaan
Ingat bahwa pertanyaan esensial  tidak harus memiliki jawaban yang tepat dan jelas, jawaban itu tidak harus sederhana. Dapat  dijelaskan dalam cara yang berbeda, pertanyaan esensia  tidak dapat dijawab dalam satu kalimat, tetapi tidak juga  seluruh buku untuk menjawabnya. Sebaliknya, sebuah pertanyaan esensial mewajibkan siswa untuk menggunakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi dengan cara membentuk opini mereka sendiri atau solusi untuk masalah. Hal ini juga menuntut anda harus menargetkan konsep utama dari bab atau esai yang Anda ajarkan. Dalam langkah ini, cobalah untuk menyesuaikan pertanyaan Anda sehingga tercapai tujuan.
5. Perbaiki Kalimat dari Pertanyaan
Agar pertanyaan esensial menjadi efektif, siswa Anda perlu untuk dapat dengan mudah memahami dan menyimpannya dalam pikiran saat mereka mempelajari informasi yang berhubungan dengan itu. Siswa jangan sampai  salah menanggapi pertanyaan esensial, dan semua siswa harus dapat memahami apa artinya. Untuk alasan ini, kata-kata yang disususn dalam pertanyaan esensial sangat penting. Setelah Anda menysun kata-kata dengan sejelas mungkin, mintalah  orang lain membacanya untuk memastikan bahwa mereka mengerti apa yang Anda coba menyampaikan.
Proses penulisan sebuah pertanyaan esensial  sering kali sama pentingnya dengan pertanyaan itu sendiri. Menjelaskan apa yang ingin siswa anda pahami tentang pelajaran,  dapat memestikan bahwa siswa Anda benar-benar akan memahami konsep-konsep penting. Dalam penyusunan pertanyaan kita biasa menggunakan kata : Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Kenapa? dan Bagaimana? namun untuk pertanyaan esensial gunakan awalan : Yang mana? Bagaimana? Bagaimana jika? Haruskah? Kenapa?

penulis : Esti Widiawati


referensi :
http://www.greenville.k12.sc.us/league/esques.html
http://www4.uwsp.edu/education/lwilson/learning/quest1.htm
http://www.brighthubeducation.com/teaching-elementary-school/102262-writing-essential-questions-for-your-lesson-plans/

Senin, 31 Desember 2012

KETERAMPILAN BERTANYA



        Sebagai seorang guru perlu kiranya kita mulai memperbaiki cara kita mengajukan pertanyaan kepada siswa di kelas. Mengajukan pertanyaan ternyata bukan hal mudah dimana jenis pertanyaan yang kita ajukan dan cara mengajukannya ke siswa akan menggiring alur berfikir mereka dan akhirnya akan juga mempengaruhi jawaban mereka. 
        Terkadang kita jumpai kasus dimana seorang siswa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kemudian dia dianggap tidak mampu (bodoh). Paradigma ini mulai sekarang harus segera diubah terutama oleh para guru dikelas karena seorang siswa tidak dapat menjawab pertanyaan bisa disebabkan karena dua hal : dia tidak tau jawabannya atau dia tidak paham dengan apa yang ditanyakan (maksud soalnya). 
        Kita ambil contoh siswa kelas 1 SD diberi soal mengenai berapa luas pulau Jawa ? Karena siswa tersebut belum pernah mendapat informasi mengenai luas pulau Jawa tentu saja dia tidak mampu menjawabnya, meskipun dia tau apa yang ditanyakan. Atau seorang Batak ditanya Sopo Jenengmu ? (bhs Jawa : Siapa namamu?), pertanyaan itu tentu saja akan mampu dijawab olehnya seandainya tidak ditanyakan dalam bahasa Jawa, namun karena dia tidak menguasai bahasa Jawa maka dia tidak mampu menjawab. Tentu dalam kedua kasus diatas seorang guru tidak dapat menganggap siswanya bodoh jika kasusnya demikian.
        Dalam kasus dikelas keterampilan bertanya bisa menjadi seni tersendiri, seorang siswa dapat belajar dengan baik jika suasana lingkungan dalam hal ini kelas mendukung. Suasana komunikatif, interaksi yang intens antara guru-siswa dan siswa-siswa akan menjadi bagian yang mendukung keberhasilan pembelajaran. Sebagai seorang guru menjadi tugas yang sangat menarik jika mampu melibatkan siswa dalam KBM. Bagaimana dikelas siswa anak tertarik dan terlibat untuk mendapatkan sendiri jawaban dari kasus-kasus yang ada di lingkungan mereka. Anak terdorong untuk berani bertanya dan menjawab, mengemukakan pendapatnya tanpa merasa takut ataupun malu.

    Ada 3 tipe pertanyaan :

  1. Pertanyaan faktual hanya memiliki satu jawaban yang benar, seperti "Apa yang kamu makan untuk sarapan pagi ini?" Jawaban dari pertanyaan ini tentu saja tergantung pada masing-masing siswa dan bersifat terkini. Namun jawabannya tidak selalu sederhana,  itu tergantung pada seberapa luas pertanyaannya misalnya pertanyaa tadi diperluas menjadi  "Mengapa tadi pagi kamu sarapan dengan nasi goreng?" ini merupakan  pertanyaan faktual yang dapat memiliki jawaban yang sangat rumit. Pertanyaan faktual biasanya dapat digunakan untuk membuat penyelidikan berbasis proyek, asalkan pertanyaan tersebut ada jawabannya  dan siswa memiliki ruang untuk eksplorasi.
  2. Pertanyaan interpretatif memiliki lebih dari satu jawaban, tergantung pada interpretasi mereka, siswa dapat memiliki jawaban yang berbeda, tetapi  harus didukung dengan bukti-bukti. Sebagai contoh, "Apakah sumpah pemuda pada masa 1928 perlu diperingati?" Jawabannya akan berbeda-beda  tergantung dari sudut pandang mereka.  Seorang guru penting untuk mengajukan pertanyaan penafsiran yang membangun satu sama lain karena siswa harus merujuk kembali ke teks. Pertanyaan penafsiran efektif untuk memulai diskusi kelas, untuk merangsang latihan bahasa lisan dan tertulis dan, kadang-kadang dapat menjadi tema  untuk Proyek berbasis inquiri.
  3. Pertanyaan evaluatif meminta beberapa jenis pendapat, keyakinan atau sudut pandang, sehingga mereka tidak memiliki jawaban yang salah. Meskipun demikian, jawaban yang bergantung pada pengetahuan dan pengalaman sebelumnya, sehingga dapat digunakan untuk memulai diskusi. Misalnya, "Apakah siswa SMP perlu mendapatkan materi  mengenai reproduksi ? Mengapa ?". Untuk menjawab pertanyaan evaluatif ini, disamping memerlukan ilmu pengetahuan yang mendalam masalah yang bersangkutan, juga memerlukan pengetahuan dan wawasan lain yang lebih luas. Pada tingkat ini, kerja kognitif yang dituntut dari siswa lebih tinggi.

Struktur Pertanyaan
        Dalam membuat pertanyaan ada baiknya guru mengetahui struktur partanyaan yang dapat merangsang adanya diskusi dan berfikir kritis dari siswa. Secara umum, mulailah dengan pertanyaan "bagaimana," "apa," "di mana," "mengapa" atau "ketika”. Terkadang guru memulai pertanyaan di kelas dengan "Silahkan kamu deskripsikan lagi ..." atau "Coba jelaskan mengapa ...?". Bila Anda bingkai pertanyaan dengan cara itu, Anda mengambil kendali dari proses pembelajaran karena Anda memberikan perintah serta meminta masukan. Itu sebabnya pertanyaan terbuka adalah yang terbaik untuk memunculkan pemikiran siswa secara jujur, kecuali Anda memiliki alasan khusus untuk seseorang/ siswa yang mengarah ke kesimpulan tertentu atau benar-benar membutuhkan fakta sebagai jawaban.
         Ada baiknya untuk menghindari pertanyaan dengan jawaban ya / tidak karena mereka biasanya buntu. Sebaliknya, pertanyaan terbuka, karena pertanyaan terbuka ini mampu :
  • mengundang pendapat, pikiran dan perasaan;
  • mendorong partisipasi;
  • menjalin hubungan;
  • merangsang diskusi, dan
  • menjaga keseimbangan antara fasilitator (guru) dan peserta (siswa).

        Cobalah bermain The Game Questions dengan siswa-siswa di kelas. Untuk memulai, dua siswa memutuskan topik pertanyaan. Satu orang dimulai dengan pertanyaan terbuka, maka siswa lain merespon dengan pertanyaan terbuka terkait. Ini berjalan bolak-balik selama mereka dapat melanjutkan tanpa membuat pernyataan atau mengulangi pertanyaan sebelumnya. Misalnya, topik mungkin obyek di dalam ruangan, seperti bola lampu :
A: Mengapa kita memerlukan cahaya?
B: Dari mana cahaya berasal?
A: Bagaimana cahaya mampu membantu orang ?
B:
Kapan cahaya digunakan?
A: Apa yang akan terjadi jika tidak ada cahaya?

Cobalah mengajukan pertanyaan dan terjadi di sekitar ruangan atau lingkungan sekitar, setiap orang mengajukan pertanyaan berdasarkan pada pertanyaan  sebelumnya.

diadaptasi dari :

http://www.youthlearn.org/learning/teaching/techniques/asking-questions/asking-questions